Haul Gus Dur ke-9: Sebuah Pemikir dan Pejuang Ekonomi Kerakyatan

alexchandra Millennials

Gus Dur

KH. Abdurahman Wahid atau lebih di kenal dengan sebutan Gus Dur adalah cucu dari pendiri organisasi islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Lahir di Jombang, Jawa Timur pada 7 September 1940. Kemudian meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 di umur 69 tahun. Gus Dur juga seorang Ulama asal Jombang yang berpikir dan memiliki visi ke depan bahkan terkadang melampaui zamannya. Sehingga setiap langkah dan pikirannya sulit dipahami oleh masyarakat awam, beliau adalah seorang Cendikiawan Muslim yang menjadi panutan dan guru bagi banyak orang.

gusdurianbogor.org

Sosok Presiden ke-5 Republik Indonesia (RI) yaitu Gus Dur selain dipandang sebagai tokoh pluralisme dan kerukunan antar umat beragama juga dikenal sebagai pemikir dan pejuang Ekonomi Kerakyatan. Dari Gus Dur kita bisa belajar dari hal-hal sederhana namun penuh makna. Seperti ungkapan ‘gitu aja kok repot’ yang seringkali disampaikan Gus Dur yang ternyata tak sesederhana kedengarannya.

Ungkapan itu adalah tingkat kepasrahan tertinggi kepada sang pencipta yang berasal dari ilmu fikih Yasir Wa La Tuasir yang artinya “permudah dan jangan dipersulit.” Bagi Gus Dur ungkapan itu tak berhenti hanya sebagai pemanis bibir, ia dengan gampang mengulurkan tangan bagi mereka yang dililit kesulitan dan datang kepadanya tanpa bertanya latar belakang, suku, ras, agama, dan golongannya.

Haul Gusdur ke-9 di Balai Sarbini, Jakarta

Pada hari Senin tanggal 17 desember 2018 saya menghadiri Konsolidasi Caleg PKB yang merupakan rangkaian kegiatan Haul Gus Dur ke-9. Presiden ke-4 RI ini lahir di Jombang, Jawa Timur pada 4 Agustus 1940 dan meninggal pada 30 Desember 2009. Acara tersebut diselenggarakan di Balai Sarbini, Jakarta.

Acara Haul Gus Dur ke-9 di Balai Sarbini, Jakarta juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Beliau menyebutkan tata krama dalam berpolitik harus dikedepankan, sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurutnya, tata krama dalam berpolitik itu penting untuk menjaga keutuhan bangas. “Jangan sampai budaya bangsa yang santun bertata krama itu hilang gara-gara perbedaan pilihan, gara-gara keinginan untuk menang,” katanya. Dalam arah berpolitiknya, Jokowi mengaku cukup banyak nilai-nilai yang ditanamkan oleh Gus Dur dan itu terangkum dalam sikap kebangsaan itu sendiri mulai dari nilai berdemokrasi, kemanusiaan, keagamaan, ketauhidan, dan anti diskriminasi. “Nilai-nilai dalam berdemokrasi, nilai-nilai dalam kemanusiaan, nilai-nilai dalam keagamaan, dalam ketauhidan, banyak sekali saya kira (yang bisa diteladani) dari Beliau (Gus Dur), nilai-nilai anti-diskriminasi juga,” kata Jokowi.

Foto: Istimewa

Visi dan semangat Gus Dur dalam membangun ekonomi tersebut menjadi inspirasi bagi pembangunan berbasis perdesaan yang dilakukan oleh Pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla. Salah satu wujudnya adalah pembentukan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Empat program unggulan desa yang diusung seperti PRUKADES, BUMDES, Embung Desa dan Sarana Olahraga Desa dibuat sebagai upaya untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan dan membangun Indonesia dari pinggiran.

Dana desa yang dibaur dalam model bisnis desa berhasil menurunkan angka kemiskinan menjadi single digit pada 2018. Cara ini menjadi salah satu bentuk dari model pembangunan baru yang dikemas Kemendes PDTT dalam buku berjudul Rural Economics 2. Di era pemerintahan Gus Dur, visi ekonomi pemerintahan dibangun dengan tujuan melindungi kepentingan sebagian masyarakat Indonesia yang tergolong dalam kondisi masih tertinggal, tidak mampu, dan miskin.

Visi tersebut diteruskan hingga di pemerintahan Presiden @jokowi. Bila semasa Gus Dur, berbagai kebijakan ekonominya berpihak pada kaum marginal, di masa sekarang pembangunan infrastruktur desa pun terus ditingkatkan. Di era kini, salah satu wujud mengadopsi visi dan semangat Gus Dur dalam membangun ekonomi adalah dengan pembentukan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Dengan pembangunan berbasis perdesaan yang dilakukan dalam Pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla, maka ekonomi rakyat jadi meningkat dan mengurangi jumlah angka Desa Teringgal. Pemanfaatan Dana Desa juga sudah dijalankan dengan maksimal. Terutama dalam pembangunan jalan dan jembatan. Alokasi Dana Desa yang tepat menumbuhkan Desa Mandiri dan mengurangi jumlah Desa Teringgal. Di pemerintahan pak Jokowi, bukan hanya masalah kelautan yang dibahas, namun juga perairan dalam arti luas. Termasuk embung atau tandon air yang merupakan waduk yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan di musim hujan, dan banyak ditemukan di desa.

Terima kasih pemerintah dan warga desa yang sudah berusaha dengan baik.

You May Also Like..

Tampil Makin Percaya Diri Dengan G-SHOCK GM 5600

Ohallo gengs!!Siapa nih yang suka pakai jam tangan? Saran aku nih buat kalian yang mau tampil keren dan fashionable dimanapun […]

Spot Foto Instagramable bisa membuat diri kita menjadi Generasi #BisaBanget dengan Playspace dari BEAR BRAND

Ohallo gengs!!Apa kabarnya??? Oh iya nih, diriku sibuk dengan kerjaan dan kemarin habis berfoto ria nan manjah di Playspace #BisaBanget […]

BPOM ajak Generasi Milenial dengan “Makan Sehat ala Generasi Cerdas”

Merayakan kampanye Hari Pangan Sedunia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelenggarakan dialog langsung dengan masyarakat. Kegiatan yang mengangkat tema […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *